Tampilkan postingan dengan label WACANA PENDIDIKAN SPIRITUAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WACANA PENDIDIKAN SPIRITUAL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 September 2008

HAKEKAT MANUSIA (2)


Hal yang kedua setelah “roh”, di dalam diri manusia masih terdapat misteri berikutnya yaitu “hati” (Qolb). Rosulullah s.a.w bersabda : Sesungguhnya di dalam setiap jasad manusia dijumpai adanya segumpal daging, yang apabila “baik” maka baiklah seluruh kondisi bagian tubuh, dan jika “rusak”, maka rusaklah semua anggota tubuh, dan ketahuilah ia itu adalah Qolbu. (riwayat Buchori-Muslim).

Al-Gazali berpendapat tentang hati ini ada dua macam yaitu : hati secara fisik adalah “jantung” yang merupakan segumpal daging dengan bentuk bulat panjang, berposisi melintang kearah kiri di tengah-tengah dada kita*. Jantung yang berfungsi memompa darah kita ke seluruh tubuh melalui gerakan mengkerut (systole) dari kedua rongga “atrium” (kiri dan kanan), serta menerima darah dari seluruh tubuh yang bermuara di “vena-cava” kemudian masuk ke dalam rongga “ventrikel” sehinga rongga tersebut mengembang (diastole), yang kemudian dipompakan keluar jantung dan seterusnya.
Dalam riset kedokteran ditemukan adanya fungsi fisiologis dari serabut otot penyusun sekat-sekat jantung (serabut Purkynye) yang memiliki aktivitas rithmis untuk mendorong terjadinya peristiwa berkontraksi (mengkerut) sehingga terjadi systole (untuk memompa darah keluar dari jantung) dan relaksasi (mengenmbang) sehingga darah dari seluruh tubuh, dapat tertampung masuk ke dalam ventrikel jantung. Akhir rambatan denyut rithmis pada jantung berada di apex cordis (puncak/ujung jantung) yang denyutannya sedikit menyentuh tulang dada (sternum). Dengan alat peka dengar seperti statoscope hal ini dapat kita dengar detakannya melalui pendengaran kita. Jantung inilah yang disebut sebagai qolb jasmaniah, dan ada yang meyakini sebagai tempat bersemayamnya “roh” .
Arti yang kedua adalah hati secara metafisik yaitu “bathin” sebagai tempat rasa/perasaan yang murni dan penuh misteri. Sedemikian halusnya (lathif) “rasa/perasaan” qolbu ini sehingga sering disebut sebagai “nurani”. Bathin inilah yang mampu menangkap kepekaan rasa dengan jujur, sehingga dapat pula diartikan pusat kejujuran ada di bathin kita. Itu pula sebabnya para orang tua kita memberikan istilah mohon maaf lahir dan bathin, artinya memohon maaf secara jujur dan ichlas sehingga maaf yang diberikan pihak lain kepada kita, juga diharapkan tulus ichlas dan jujur. Bathin yang mampu menangkap kebenaran hakiki melalui pertimbangan jujurnya, namun sekaligus bathin pula yang dapat menentangnya untuk memutuskan kehendak melakukan ketidakjujuran itu sendiri. Nurani memang tidak bisa dibohongi namun kelemahan nurani pula yang tak dapat menolak kebohongan sehingga ada keputusan tindakan manusia untuk berbohong. Sehingga Qalb nurani inilah yang memikul segala tanggung jawab perbuatan dan perilaku manusia selama hidup di dunia, mengingat seluruh aktivitas qolb jasad bersumber pada kehendak yang sepenuhnya dikendalikan oleh qolb nurani.
Qolb jasad akan diadili dalam proses penguraian biologis di dalam tanah (dikubur), atau proses perubahan materi biochemist melalui perabuan kremasi, bahkan perubahan evolusi buatan melalui cara dibalsem, disuntik formalin atau proses pengawetan jasad dengan proses pendinginan.
Qolb nurani sebenarnya dapat menangkap segala sesuatu yang wujud (ada) manakala Tuhan melimpahkan segala cahaya penerang kepadanya, termasuk mengenal sifat-sifatTuhan secara hakikie dan maknawi, bukan cuma translasi arti dari sudut bahasanya. Sehingga atas ijinNya pula kepekaan qolb mampu menangkap yang ghoib (seperti halnya pertemuan rosulullah s.a.w dengan malaikat Jibril), untuk diinternalisasikan di dalam menjalani proses kehidupan dunia sehari-hari.

Namun perlu selalu kita ingat, bahwa pada akhirnya Qolb nurani akan sendirian keluar meninggalkan jasad dan menuju kepada empunya yaitu Allah s.w.t untuk memberikan laporan pertanggungjawaban kinerja selama periodesasi hidup kehidupannya saat menerima tugas menyatu dengan qolb jasad (sejak awal ditiupkan “roh”ke dalam jasad sang bayi semasa dalam kandungan/ fase embryologist).
Sekarang apa yang bisa kita perbuat?. Mengendalikan qolb nurani sesuai dengan petunjuk kebenaran Tuhan, atau membiarkan “dia” menguasai jasad kita karena kita tunduk dan bersedia mengikuti bisikan syetan?.
Hak otoritas penentuan sikap dan kehendak melakukan sesuatu (bahkan tanpa batas) telah diserahkan sepenuhnya kepada anda (secara demokratis, oleh Sang Maha Demokratis).
Perlu renungan (tafaqur)lebih lanjut dan lebih intens memang,....
Selamat mengupas diri sendiri, karena memang kita tidak berpretensi untuk mengupas diri orang lain.
.
.
Tulisan di atas tidak terlepas dari kontribusi sumber :mengenal islam, Jamal Syarief Iberani, el Kahfi, 2004.
*hati secara antomis adalah organ Hepar yang terletak di bawah dari bagian dada sebelah kanan (sisi kanan lambung).
Cijantung tiga, bakda subuh 8 September 2008 (hari kedelapan Ramadhan 1429 H). Darsana Setiawan.

Sabtu, 06 September 2008

puasa itu hanya untukKU !.


Pagi-pagi jam 03.00 wib sebelum sempat makan saur, saya memperoleh telepon dari seorang teman yang mengkhabarkan keselamatan, kesehatan serta berkah rezekinya. Saya ikut merasakan kebahagiaan yang mereka khabarkan, kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan keinginannya untuk bersilaturochim bersama teman-teman yang lain. Diakhir pembicaraan telepon tersebut teman saya ini menanyakan "apakah saya menerima undangan berbuka puasa bersama dengan 800 orang (yang berposisi strategik dan berpengaruh menghadirkan "suara" dalam kegiatan Pemilu April 2009 mendatang?). Jawab saya lugas "tidak". Saya baru sadar kemudian, bahwa acara-acara seperti itu memang rawan diplesetkan untuk kepentingan lain, di luar kepentingan ibadah yang hanya mencari keridhaan Allah s.w.t.. Mudah-mudahan pendapat saya seperti ini bukan karena saya "iri/sirik" gara-gara saya "tidak diundang" dalam acara tersebut, dan bukan pula puasa kita ini hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban dari rukun Islam yang ketiga semata.
Berikut ini saya kutibkan satu tulisan (dari http//:mbahjowo.blogspot.com/) terkait dengan hal tersebut, namun maaf dalam bahasa Jawa kromo inggil yang bertajuk Shaum di bulan Ramadhan. Bila ada kesulitan dalam memahami, saya bersedia menstranfer kembali dalam bahasa Indonesia.

SHAUM ING WULAN ROMADHON
Shaum utawi Siam, kasebat ugi kanthi boso ngoko Poso, mujudaken rukun (pedamelan ingkang kedah dipun lampahi dening ingkang pitados utawi ngugemi keyakinan) Islam ingkang ongko 3. Shaum ing wulan Romadhon puniko boten namung ngemu suraos ibadah dumateng ngarsanipun Gusti Allah s.w.t. Meh sedoyo poro ilmuwan sarujuk dumateng inti shaum soho paring dukungan dumateng ibadah shaum puniko. Saking perangan ilmu jiwa. pendidikan, kesehatan soho ilmu sosial sedoyonipun paring dukungan lan sarujuk bilih shaum puniko mbekto manfaat dumateng perkembangan jiwo lan rogo.

Shaum damel jejeging disiplin jiwo, ugi moral soho semangat bebrayan ingkang kiyat. Shaum ugi saged ndadosaken landasan latihan prihatos lahir, soho “pengendalian” pribadi lan howo nafsu. Punopo malih naliko kito nembe shaum, tamtu bade ngraosaken kabetahan ingkang kedah sabar dumateng sedoyo tindak tanduk ingkang bade lumampah.
Shaum ugi murugaken priyantun sami teguh ngemban janji, amanah, lan nebihaken saking tumindak culiko.
Raos luwe lan ngelak ndadosaken priyantun ingkang shaum lajeng kagungan raos “iso ngrasakke roso rekasaning liyan” (kepekaan sosial & kesalehan sosial).
Cobi sami kito galih, bilih mesin mobil kemawon kedah dipun andapaken mesin naliko sampun lumampah 5 utawi 6 tahun laminipun, punopo malih madaran kito ingkang sampun “operasi kerja” puluhan tahun laminipun, menawi boten wonten wekdal istirahat tamtu bade ngadat. Pramilo lajeng dawah kleresan Gusti Ingkang Murbeng Dumados paring dawuh shaum ing wulan Romadhon, kangge jejegaken iman netepi agami.
Allah paring dawuh lumantar Al Qur’an bilih Shaum ing wulan Romadhon puniko namung tumuju wonten ngarsanipun Gusti (Puasa Romadhon itu untukKu), ugi ganjaranipun namung Allah ingkang bade paring kanugrahan (dan juga hanya Aku yang akan memberikan balasannya).

Ewo semanten taksih kathah poro pelaku politik parktis ing negari kito ingkang kumawantun mendet hak-ipun Allah kanti lampah kampanye naliko wekdal undangan buko shaum utawi sholat Taraweh.
Mugi ibadah shaum kulo lan panjenengan sami dipun lambari namung pados ridhanipun Allah taala, (dede agenda kepentingan ingkang sanes) tinampi dening Gusti. Amien.

Jumat, 05 September 2008

HAKEKAT MANUSIA (1)


Paling tidak, ada tiga kata yang digunakan Al Qur’an dalam menunjukkan identitas manusia, yaitu insan, basyar dan bani Adam.
Basyar merupakan sebutan yang lebih banyak mencacu pada pengertian manusia dari segi fisik dan nalurinya yang berbeda dengan makhluk lain. Sementara Insan menunjukkan manusia lebih pada seluruh totalitas jiwa dan raga yang terus berproses (human being), sehingga terjadi perbedaan manusia yang satu dengan yang lain karena adanya interaksi di dalam proses menjadi “manusia” berdasar bawaan fisik, mental serta kecerdasannya masing-masing. Sedangkan istilah bani Adam lebih menunjukkan pada “manusia” sebagai makhluk sosial yang selain memiliki kecerdasan sosial juga memiliki kepekaan sosial sehingga mampu melakukan kesalehan sosial.

Konsep tentang “manusia” di dalam Islam diungkapkan Allah s.w.t di dalam Al Qur’an (Al-Mukminun 23: 12-14) ; manusia diciptakan Allah dari saripati tanah yang dijadikan sperma (nuthfah) dan disimpan di tempat yang kokoh. Kemudian nuthfah itu dijadikan segumpal darah. Segumpal darah dijadikan segumpal daging. Lalu dari segumpal daging dijadikan pula tulang. Tulang kemudian dibalut dengan daging kemudian dijadikan Allah sebagai makhluk.
Dalam surat As`Sajadah (32: 7-9), ditegaskan pula bahwa setelah kejadian manusia di dalam kandungan sang ibu mengambil bentuk, ditiupkan roh oleh Allah ke dalam tubuhnya, dan dijadikan pendengarannya, penglihatan serta perasaannya.

Proses perkembangan embryologis di dalam rahim seorang ibu, begitu jelas digambarkan oleh Al Qur’an, kecuali “roh”.
Di dalam tubuh manusia dijelaskan adanya dua unsur yang menyatu yaitu unsur materi yang tidak lain adalah tubuh dengan daya fisik yang dapat mengekspresikan seluruh panca indera, serta unsur immateri yang mewujud sebagai roh dengan ekspresi dua daya yaitu akal-fikiran yang berpusat di otak dan , “rasa” yang berpusat di hati/qolbu bahkan juga nafsu.
Lebih jauh tentang “roh”, sebenarnya ada keyakinan bahwa Allah telah membimbingnya dengan perintah kebaikan serta larangan untuk berbuat munkar (amar ma’ruf nahi munkar). Namun akal fikiran manusia serta nafsunya memang diberi kebebasan untuk memilihnya. Dan konsep pembebasan inilah yang disebut sebagai hak demokrasi paling azasi yang diberikan Allah kepada hamba ciptaanNya (jadi Allah memang Maha Demokratis).
Roh dari sisi hati/qolbu sebenarnya begitu dominan di dalam mengambil inisiatif bahkan nyaris berperan sebagai komandan di dalam seluruh aktivitas kehidupan seseorang, manakala diberi peluang dan kesempatan untuk itu. Hanya sayang seringkali nafsu meringkusnya dengan garang bahkan melakukan “kudeta” sehingga hasil eksekusinya berupa kemunkaran !.
Dialog antara qolbu dan nafsu inilah yang sebenarnya merupakan esensi dari skenario sandiwara kehidupan manusia, seperti halnya sebuah lirik lagu rock yang pernah dinyanyikan Ahmad Albar “dunia ini panggung sandiwara……”.
Roh bukanlah “jism” (jasad) dan bukan pula arold (tubuh), karena keberadaan roh tidak melekat atau bergantung pada sesuatu atau organ manapun di dalam tubuh manusia. Roh adalah jauhar (substansi) yang wujud (ada) serta mandiri akan tetapi tidak mewujud (tertangkap pancainderawi).
Bahkan Ibnu Qoyyim menyatakan, roh adalah jism yang tak dapat diraba karena “dia” adalah jism nurani yang lembut, ringan dan tinggi sehingga mampu menembus seluruh lerung setiap anggota tubuh kita.

“Berkas roh” telah menjalinkan dirinya di dalam tenunan fisik tubuh seseorang dan secara pasti meninggalkan jejak “kehendak yang dilakukan setiap manusia”.
Manakala tubuh ini sakit, rusak ataupun tidak lagi mampu menerima kehadirannya, maka “roh” akan pergi meninggalkan ragawi ke alam berikutnya yaitu alam arwah. Roh yang tidak lagi menyatu dan hilang dari tubuh kita itu disebut dengan nafs.
Memang roh adalah substansi di dalam tubuh, namun bukan unsur materi, sehingga kepergiannya dari tubuh kita dapat menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, namun kita tak dapat memegangnya, tak dapat mencegahnya.
Itulah misteri besar dari hakekat keberadaan manusia dengan segenap esensi kemanusiaan-nya, yang tetap harus tunduk pada sunatullah yang telah menetapkan waktu untuk mengambil kembali milikNya dari badan kita yaitu “roh”.
.
.
Tulisan di atas tidak terlepas dari kontribusi sumber :mengenal islam, Jamal Syarief Iberani, el Kahfi, 2004.
Cijantung tiga, bakda subuh 5 September 2008 (hari kelima Ramadhan 1428 H). Darsana Setiawan.

Selasa, 02 September 2008

TREND PERUBAHAN GENDER

Di dalam kitab hadis Shahih Muslim tentang rodlo’ah (terjemahan H.Rais Lathief dan H.A Razak, cetakan khusus Agustus 2003, halaman 531) diriwayatkan adanya hak istimewa bagi seorang hamba sahaya yang bernama Salim.

Dari Aisyah r.a. katanya “Salim, seorang sahayan Abu Huzaifah yang telah dibebaskannya tetapi masih tetap tinggal di rumahnya”. Hal itu oleh istri Abu Huzaifah disampaikan kepada Rasulullah s.a.w. dengan berkata “Salim, sekarang telah dewasa dan telah berfikir seperti orang dewasa lainnya, tetapi dia masih bercampur dengan kami, dan hal ini mungkin menyebabkan hati suami saya (Abu Huzaifah) kurang senang”.
Kemudian berkata Rasulullah s.a.w. kepada wanita itu “Susukan*, untuk menjadikannya mahrammu, dan dengan itu kelak perasaan kurang senang dari Abu Huzaifah akan hilang !”.
Setelah beberapa lama, wanita itu datang lagi kepada Rasulullah s.a.w. seraya berkata, “Salim telah saya susukan, dan perasaan kurang senang telah hilang dari hati Abu Huzaifah”.

Maaf, anda jangan tergesa-gesa menyimpulkan, karena berkata Imam Nawawi, Yang dimaksudkan dengan menyusukan* disini ada dua kemungkinan yaitu:
1. Perempuan itu memerah susunya lalu diberikannya kepada Salim.
2. Salim disusukannya seperti menyusukan bayi, tetapi alim ulama berkata, “Kejadian itu hanya istimewa bagi Salim saja, dan tidak boleh ditiru oleh orang lain lagi, kepada siapapun juga”.

Saya tidak ingin memberikan komentar terhadap hak istimewa Salim, karena Salim sendiri (mungkin) tidak pernah bermimpi dan berminat seperti yang dilakukan istri Abu Huzaifah menyusui dirinya yang hanya hamba sahaya, dan sudah menginjak dewasa lagi.
Stop disini ya, “inga-inga” sekarang bulan Ramadhan, puasa khan?.

Nah sekarang ada analisa yang hebat dari seorang internasonalist bestelling author yaitu Michael Backman dalam buku terbarunya ASIA FUTURE SHOCK, ( Ufuk Press, 2008 ) tentang makin merendahnya jumlah populasi kaum perempuan dibanding kaum pria, bahkan di tahun 2030 jumlah pria di India dan China diperkirakan 250 juta jiwa lebih banyak dibanding perempuan.
Di beberapa wilayah Asia tak lama lagi akan menghadapi ketimpangan gender yang sangat serius, daripada yang pernah dihadapi di manapun sepanjang sejarah umat manusia. Di Korea Selatan hal ini malah terjadi lebih serius, karena dari jumlah kelahiran 1000 bayi perempuan, ternyata diimbangi dengan lahirnya 1.108 bayi laki-laki. Dampaknya di Korea Selatan sudah lumrah adanya Makelar pernikahan yang menawarkan untuk mencarikan istri bagi pria Korea Selatan yang mencari istri di luar orang Korea (karena nggak kebagian perempuan Korea). Angka fantastis dari perkawinan pria Korea Selatan ternyata 14% nya menikah dengan perempuan non Korea (perempuan dari Vietnam, Kamboja, Filipina, Mongolia, Thailand dan Uzbekistan).
Bahkan Korean Consumer Protection Board memperkirakan ada 2000 sampai 3000 agensi yang mengiklankan layanan jasa perusahaan yang membantu pengaturan pernikahan pria Korea dengan perempuan asing yang diminatinya atau mungkin dicarinya (semacam biro jodoh).
Naah surplus pria telah terjadi, terutama di India, China, Korea Selatan dan Jepang, sementara di Indonesia angka statistiknya tidak begitu jelas (atau mungkin memang diciptakan seperti itu untuk kepentingan tertentu) seperti dominasi Tenaga Kerja Indonesia di sector rumah tangga masih ada di pihak perempuan, sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus mempertanyakan alokasi minimal kaum perempuan dari daftar calon anggota legislative yang diajukan setiap partai politik ternyata banyak yang belum memenuhi kuota.
Tentu kita tidak ingin terjadi kebijakan konvensional terulang lagi, seperti cara untuk mengurangi jumlah populasi pria dengan memperbesar jumlah angkatan bersenjata (untuk mati dalam perang yang tidak jelas juntrungannya seperti “Perang Vietnam dan Perang Irak” ??) atau mungkin seperti China yang melibatkan banyak kaum pekerja prianya ke dalam realisasi industri kerjasamanya di luar China, terutama di Afrika?. Sementara wilayah Eropa juga sudah mulai dijamah oleh imigran gelap pria China yang berprofesi sebagai penjual DVD (blue-ray?) bajakan di seantero lorong kota-kota mereka. Sekolah-sekolah internasional di beberapa Negara Asia seperti di Indonesia, Thailand dan Malaysia sendiri, sudah mulai di masuki para guru-guru pria dari India yang memang memilki keunggulan kompetensi terutama dari sisi bahasa Inggris dan penguasaan ICT (Information Communication and Technology).
Kondisi ini paradoks dengan kejadian masa lalu yang mengimpor Puteri Champa (dari Kamboja/China?) untuk dijadikan istri raja Majapahit, karena dominasi akuntabilitas kaum pria kita di masa itu, sehingga hal ini ditiru pula oleh pelukis ternama yang saya kagumi yaitu Basuki Abdullah yang memperistri perempuan (dari kalangan dalam kerajaan Thailand) sebagai permaisuri beliau, atau Salim seorang pelukis Indonesia yang tinggal di Paris dan sudah berusia 100 tahun (per tanggal 2 September 2008 hari ini) sungguh misterius hal-ichwal tentang perempuan yang diperistri untuk mendampingi sisa hidupnya.
Namun saya kembali meminta anda untuk tidak lagi mengusik keistimewaan Salim yang diriwayatkan Aisyah r.a. di dalam hadist di awal tulisan ini, walaupun trend jumlah populasi perempuan saat ini memang lagi menurun, sehingga hukum ekonomi pasar mengatakan “harga”/”penilaian” nya menjadi tinggi.
Sungguh kita syukuri saja sebagai laki-laki atau perempuan kita ini diciptakan, sehingga tidak perlu menciptakan kaumnya nabi Luth (baru), yang dimurkai Allah s.w.t.
Selamat menjalankan ibadah puasa.

Cijantung tiga, hari kedua Ramadhan 1428 H bertepatan dengan tanggal 2 September 2008. Darsana Setiawan.
.
.

Senin, 01 September 2008

AYAT PENDIDIKAN

"Hari ini saat saya menulis artikel" untuk http://darsanaguru.blogspot.com/, adalah hari Jum’at tanggal 15 Agustus 2008, yang memiliki kesamaan dengan hari Jum’at bulan Agustus tahun 1945. Hanya saat itu jatuh pada tanggal 17 dan berada di bulan Ramadhan, sebagai tanggal dan bulan yang dipilihkan Allah SWT untuk bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Semuanya bukan kebetulan, karena segala peristiwa yang terjadi tidak pernah luput dari ketentuan Allah SWT sebagai Sang Maha Perencana serta Maha Penentu.
Saat Rosul Allah yang terakhir (Muhammad SAW) menjadi magnet penarik minat untuk ditiru dan diteladani perilaku serta kepribadiannya oleh bangsa Arab di era Jahiliah, muncullah rasa kekaguman di kalangan para sahabat Rosul melalui pertanyaan Abu Bakar “dari manakah pendidikan tentang perangai yang mengagumkan itu diperoleh?”.
Jawaban Muhammad Rosulullah adalah “Allah telah mendidikku, dan itulah sebaik-baiknya pendidikan”.Oleh karena itu seyogyanya lembaga dan system pendidikan yang ingin menggapai “akhlakul karimah” seperti Muhammad Rosulullah, selayaknya menggunakan dan mengikuti cara-cara yang telah diwahyukan Allah serta dijalani oleh rosulNya. Apalagi lembaga pendidikan itu berbasis agama Islam. Inilah esensi dari ayat pendidikan tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan Ramadhan sebagai bulan diwajibkannya setiap muslim/muslimah menjalankan puasa?. “Shaum” atau puasa pertama kali diwajibkan saat satu setengah tahun setelah hijrah Rosulullah ke Madinah dan jatuh pada bulan Ramadhan. Sehingga mulai saat itulah puasa selama satu bulan di bulan Ramadhan, menjadi rukun Islam yang ke 3 dan berimplikasi wajib hukumnya bagi setiap pemeluk agama Islam. Makna Shaum itu sendiri adalah “pengendalian diri” terhadap tuntutan nafsu duniawi (makan, minum serta kebutuhan seks suami- istri). Pengendalian diri selama bulan Ramadhan dibutuhkan oleh setiap orang, untuk melakukan refleksi terhadap seluruh langkah kebijakan yang telah dilakoninya selama satu tahun ke belakang.
Hasil analisa terhadap aktivitas diri di masa lalu, diharapkankan mampu menghasilkan sebuah pengambilan keputusan “langkah baru” untuk melanjutkan kebijakan yang sudah baik dan sukses di masa lalu, atau merevisi total kebijakan yang dianggap keliru dan tidak ingin diulang dimasa datang.
Dalam renungan diri di bulan Ramadhan, dibutuhkan suasana bathin yang “hening” serta “peka” terhadap persinggungan dengan masalah duniawi yang didominasi oleh nafsu badaniyah (makan, minum serta kebutuhan seks suami- istri), sampai masanya tiba di tanggal 1 Syawal sebagai tanda awal kemenangan bagi setiap hamba Tuhan dalam melakoni “pengendalian dirinya”. Itu pula sebabnya tanggal 1 Syawal sering disebut sebagai hari Iedul Fitri atau hari kelahiran kembali ide,gagasan, niatan serta kemauan diri untuk melangkah serta menapaki jalan baru kehidupan duniawi serta uchrowinya. Allah SWT menetapkan puasa kepada umat muslim dan umat-umat sebelumnya untuk berlaku jujur (baik terhadap diri sendiri apalagi terhadap orang lain), karena ibadah puasa merupakan ibadah non fisik, yang tidurnya seorang hamba saja sudah diperhitungkan akan memperoleh pahala, karena dengan tidur di saat menjalani puasa, berarti menghindar dari perbuatan dosa. Sejelek apapun mimpi seseorang yang tidur, tidak akan membawa dosa dan perbuatan terlarang pada dirinya. Saat seorang hamba berpuasa dirinya mampu menahan diri dari seluruh perbuatan yang dapat membatalkan puasanya, walaupun tidak seorangpun melihatnya, namun keyakinannya tetap kokoh bahwa Allah tetap melihat dan mengetahui segenap gerak langkahnya, bahkan sampai pada detak fikirannya.
Namun berpuasa dan tetap bekerja, juga bukanlah sesuatu yang diharamkan, selama dalam menjalani puasa tersebut seorang hamba tetap melakukan pengendalian diri untuk tidak membatalkan puasanya. Justru di dalam kondisi seperti itulah seorang hamba sedang melaksanakan ujian untuk mempertahankan keyakinan keimanannya kepada Allah SWT. Itu pula sebabnya Allah berfirman bahwa “ ibadah puasa di bulan Ramadhan hanya diperuntukkan bagi hambaNya yang bertaqwa”. Dan itulah misteri dibalik tujuan ibadah puasa di bulan Ramadhan, sehingga Allah menghiasinya dengan peristiwa Nuzulul Qur’an (malam diturunkannya Al Qur’an) sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, sebagai medium pendidikan pribadi agar mampu mandiri menghadapi kenyataan nanti (yang memang harus sendiri).....semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, amien.