Rabu, 02 Juli 2008

KENAKALAN REMAJA vs TANGGUNG JAWAB ORANG TUA


Senin, 30 Juni 2008 21:17:00
Kasus Kejahatan Anak di Bapas Kediri Terus Meningkat (Warta Alumni SMA 1 Kediri - Yahoogroups)
Kediri-RoL-- Kasus kejahatan yang melibatkan anak di bawah umur 18 tahun yang ditangani Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kediri, Jawa Timur terus menunjukkan tren peningkatan.Kepala Bapas Kediri, Rintjoko S, Senin menyebutkan, selama periode Januari-Juni 2008 pihaknya sudah menerima 170 kasus kejahatan dari kepolisian yang melibatkan anak-anak."Jumlah ini kami perkirakan akan terus meningkat, karena setiap bulan kami bisa menerima antara 15 sampai 35 kasus kejahatan anak-anak," katanya. Sedang selama tahun 2007, Bapas Kediri telah menerima 291 kasus kejahatan yang melibatkan 286 anak laki-laki, dua kasus perempuan, dan tiga kasus lainnya gagal dipidanakan.Angka itu lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2006 yang hanya 248 kasus kejahatan melibatkan 239 anak laki-laki, enam kasus anak perempuan, dan tiga lainnya gagal dipidanakan karena berbagai alasan. Dari 170 kasus kejahatan pelakunya anak-anak itu, pada bulan Juni ini Bapas Kediri mendapatkan tugas memberikan bimbingan pada sembilan anak yang kasusnya telah diputus pengadilan.Menurut Rintjoko, kasus kejahatan yang dilakukan anak-anak itu didominasi oleh kasus pencurian. Disusul kemudian kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pencabulan, dan pembunuhan. "Anak-anak yang masuk di Bapas ini rata-rata dari golongan ekonomi menengah ke bawah yang kurang mendapatkan perhatian dari orangtua," katanya.Oleh sebab itu dia mengingatkan kepada para orangtua untuk lebih serius dalam memperhatikan anak-anaknya sehingga tidak terjerumus dalam dunia kejahatan. Sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, salah satu fungsi Bapas adalah membimbing anak-anak yang terlibat kasus kejahatan. antara/mim

Tanggapan via yahoogroups Warta Alumni SMA 1 Kediri,
Dari: astuti judhananto
Tanggal: Selasa, 1 Juli, 2008, 3:51 PM
Kalo menurutku, sekarang sepertinya era globalisasi sudah agak kebablasan. Sebagian anak2 menganggap era globalisasi berarti juga kebebasan bertingkah laku tanpa ada batasan "bebas bertanggung- jawab". Semakin luasnya arus informasi, bisa diakses dimana saja tanpa batasan usia, juga mempengaruhi lebih cepatnya pemikiran seorang anak-anak menjadi "lebih dewasa" atau ingin menjadi "seperti orang dewasa", supaya lebih "diperhitungkan" eksistensinya oleh lingkungan atau teman2nya.
Sayangnya, tanpa adanya pengawasan yang baik dan benar, jurusannya jadi ke hal2 yang negatif. Sayang banget, ya, jika banyak generasi muda yang demikian mudahnya terpengaruh oleh hal2 yang sangat bisa merusak masa depan mereka. Tugas kita2 -terutama yang sudah jadi orang tua- untuk menanamkan sikap disiplin dan takut kepada Tuhan sejak dini, untuk membentuk generasi mendatang yang berbudi pekerti yang luhur.
Lha iyo tho, sedulur kabeh...??


Tanggapan dari Darsanatasiun'69darssetia@yahoo.co.id (pengelola blog ini) via Yahoo groups Warta Alumni SMA 1 Kediri 1 Juli 2008;

Tahun 1998 bangsa ini sudah sepakat (secara politis) untuk melakukan REFORMASI TOTAL di setiap sektor aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam hal penegakkan HAM dan Demokratisasi.
Hanya sayangnya, saat itu kita belum memiliki patron "seperti apakah masyarakat hasil reformasi itu?".
Cak Nur (Alm. Nurcholis Madjid) pernah menawarkan masyarakat madani, dan saat itu Pak BJ. Habibie setuju, namum kebelakang (tahun-tahun berikutnya) kok jadi begini?. Istilah populernya "kebablasan".
Para Sosiolog dan Anthropolog sering berkata tentang hal ini "melepas sistem (masa lalu) yang dinilai ancur-ancuran, tapi belum menemukan sistem yang disepakati dan secara konsisten dijalani oleh bangsa ini".
Saya lebih senang menggunakan istilah "Sambil lari pakai sepatu, dan sialnya sepatu sing dijajal kambek mlayu ukurane gak onok sing pas karo gedene sikil".

Pak Juwono Sudarsono (Menteri Pertahanan) dalam resensi buku "Reinventing Indonesia" (penerbit Mizan) yang dimuat di Koran Sindo 5 Juli 2008 menulis ; Era reformasi yang telah berjalan satu dasawarsa telah pula menimbulkan tuntutan masayarakat yang berkembang, dan cenderung menduga adanya ketidakmampuan pemerintah dalam menilai dan memahami korelasi strategis antara antara kebutuhan (need) dan keinginan (wish).
Krisis pangan dan energi serta berbagai ancaman global serta ancaman perubahan iklim global ikut berperan mempengaruhi terbentuknya karakter anak bangsa dan mengarah pada reduksi rasa nasionalisme maupun pelunturan rasa jati diri bangsa. Refleksi hal itu juga nampak pada tumbuhnya gejala "semua orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan mencari solusi dengan caranya masing-masing".
Analisa saya mengatakan bahwa hal ini terjadi justru karena adanya benih-benih krisis kepercayaan di dalam masyarakat kita, yang seharusnya segera diantisipasi dengan langkah-langkah konkrit dalam bentuk upaya nyata peningkatan kredibilitas serta akuntabilitas publik.
Menanggapi soal kenakalan remaja, ternyata data dari Bapas Kediri menyatakan, telah terjadi penurunan pada pelaku bergender perempuan ( selama tahun 2007, Bapas Kediri telah menerima 291 kasus kejahatan yang melibatkan 286 anak laki-laki, dua kasus perempuan, dan tiga kasus lainnya gagal dipidanakan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2006 yang hanya 248 kasus kejahatan melibatkan 239 anak laki-laki, enam kasus anak perempuan, dan tiga lainnya gagal dipidanakan karena berbagai alasan).
Tapi ojok seneng disik, mergo belum tentu kuantitasnya menurun berarti kualitas kejahatannya juga turun.
Sing lebih penting kita waspadai anak-cucu kita, anak-anak di sekitar rumah tinggal kita agar tidak keliru memilih konco dolan. Lha nek kecelakaan anak-anak TK mangan coklat tekok kulkas sing isine tablet narkoba milik bapaknya ....yo mbuh,......jenenge kecelakaan minta aja ke Allah supoyo dijauhkan dari ujian, Yo bapake yo anak-anake. Amien.(Untung banget iku gak Ibuke sing doyan coklat, lah nek ibuke arek-arek sing mangan coklat isi narkoba iku, lak blaen dadine).

Nih ada data hasil riset yang dimuat di dalam Republika 2 Juli 2008 tentang remaja kita; Ahli Kesehatan jiwa Universitas Udayana Denpasar Bali, Prof.Dr.dr.LK Suryani,SpKj (K) dalam Seminar Guru di Denpasar “memahami perkembangan mental anak” 1 Juli 2008, mengungkapkan data risetnya sbb;
Dalam waktu lima tahun dijumpai 952 anak remaja mati bunuh diri di Bali, atau 190 orang remaja dalam setahun.
Remaja pria sebanyak 66,5% yang mayoritas berusia dibawah 20 tahun (13,7%).

Seiring dengan pesatnya perkembangan sains dan teknologi (ICT), telah berpengaruh kepada anak-anak yang menjadi semakin pandai, namun kekuatan mentalnya justru MENURUN. Semangat juang (Adversity Quotient) dan tingkat kerajinan dalam meraih cita-cita ikut menurun (remaja kita cenderung mencari solusi jalan pintas/instant dengan perolehan hasil secara cepat, dengan mengabaikan proses-nya).
Kebangganan terhadap nilai moralitas juga turun, bahkan ada kecenderungan bangga manakala sudah berhubungan seks dengan lawan jenis sebelum menikah, bahkan dijadikan prasyarat untuk menjadi anggota kelompok mereka. Dari 100 responden, diperoleh jawaban bahwa tingkat intensitas komunikasi antara anak dengan orang tua, berkorelasi positif dengan perkembangan sikap mental mereka
.

Dengan demikian dapat difahami betapa pentingnya interaksi aktif dalam berkomunikasi antara orang tua dan anak di dalam keluarga, sehingga medium konsultasi dapat berlangsung secara sehat, sekaligus berperan sebagai agen perlindungan dari jiwa-jiwa remaja yang memang sedang bergolak emosinya.
Kalau seperti ini pemikirannya, maka pembekalan kepada setiap orang tua (maaf, yang tuna pemahaman perkembangan psikologi remaja) sangat perlu dilakukan, dengan menisbikan perasaan negatif dari para orang tua, seperti ketersinggungan, gengsi atau tinggi hati karena harus lebih sering "mendengar, menunggu, menanggapi" dengan sabar, dari setiap argumentasi anak-anak remaja kita.

Semoga perubahan zaman yang telah terjadi, tidak sepenuhnya dianggap sebagai penjungkirbalikkan nilai serta kebebasan berekspresi pada budaya kita, karena di dalam perubahan itu tak kurang pula nilai-nilai kebaikan yang mengakomodasi situasi ke depan (yang mungkin bukan zaman kita lagi /bukan zaman para orang tua saat ini).
Memang sulit fikiran sehat kita membayangkan adanya berita ANTV (running text) tanggal 4 Juli 2008, bahwa dalam waktu satu tahun saja (2007) di kota London telah terjadi 173 orang remaja meninggal akibat perilaku remaja yang lain, sementara di Perancis pada awal Juli 2008 lalu, dijumpai 3 orang anak remaja yang meninggal dengan badan penuh tusukkan senjata tajam, dan ternyata pelakunya adalah remaja juga.
Ada baiknya secara khusus digelar berbagai forum atau moment dialogis antara remaja dan orang tua, agar seluruh ide, gagasan, pendapat anak/remaja bisa didengar dan direspons para orang tua, kemudian dilanjutkan dengan informasi hasil riset tentang Psikologi Perkembangan Anak, untuk mengungkap bentuk-bentuk perilaku serta tingkat perkembangan emosi pada usia remaja, sehingga para orang tua yang mendampingi putra-putrinya (remaja) memiliki bekal untuk melakukan bimbingan dan pendampingan secara memadai.

Waduuh rek, cik abote dadi wong tuwek zaman sak-iki. Bekne zaman ndisik bapak-ibune awakke dewe yo ngono ngadepin nakale awakke dewe iki yo cak.
Yo embuh maneeh......

Minggu, 25 Mei 2008

SALAH DIDIK SOAL PANGAN

Kompas edisi Jum'at 23 Mei 2008 mewartakan diskusi di dalam Seminar yang diselenggarakan oleh Puslit Biologi LIPI bekerjasama dengan Plant Resources of South East Asia Association (Prosea) hari Kamis 24 Mei 2008 di IPB Bogor, dengan judul "Sumber Daya Hayati dan Pertanian: Mengapa Potensi Hayati Belum Termanfaatkan?".

Menarik disimak pendapat panelis IPB (Edi Santosa, Departemen Agronomi dan Hortikultura) yang mengatakan ; Krisis pangan dunia akibat masuknya pialang ke bursa komoditas, seharusnya membawa berkah bagi Indonesia, yang keanekaragaman hayatinya luar biasa (megadeversity). Sejak dicanangkannya Revolusi Hijau (1960), pertanian cenderung fokus pada peningkatan produktivitas pangan primadona yaitu; padi, jagung dan kedelai. Tanaman pangan tradisional seperti "suweg, iles-iles, sagu dan ubi jalar (*telo rambat)" telah diberi stigma negatif yakni kemiskinan dan kemelaratan.

Di Jepang, pendidikan cara makan (shokuiki) di ajarkan sejak abad ke 18 (jaman restorasi Meiji) sampai sekarang. Sehingga timbul rasa malu kalau belum berkarya (belum melakukan pekerjaaan) sudah makan terlebih dahulu, dan hal ini ditandai dengan keluarnya keringat setelah bekerja keras yang menjadi kebanggaan mereka.
Lain halnya dengan kita, yang justru menyuburkan anekdot "belum makan namanya kalau belum makan nasi", dan bangganya bukan main keluar keringat setelah makan,.....eeehhmm mohon jangan bertanya sudah berkarya/melakukan pekerjaan atau belum saat akan makan.

Seharusnya stigma negatif (dalam pendidikan) tentang bahan pangan pokok segera dihilangkan seperti pembelajaran di Sekolah Dasar yang menyampaikan bahwa "pisang adalah makanan monyet" bahkan saya saat masih anak-anak dilarang makan pisang (gedang ijo) yang ada di bagian tepi tandan (lirang) dengan alasan pisang yang besar itu sudah menjadi haknya si "buto ijo".
Wallahualam, siapa si Buto Ijo tersebut.

Menurut panelis lain dalam seminar tersebut (Justika S Baharsyah) kita harus berhati-hati menerapkan kebijakan menggantikan bahan bakar fosil (yang tak terbarukan seperti halnya minyak bumi) dengan bahan bakar terbarukan (biofuel).

Jangan terpeleset lagi biofuel diproduksi dari bahan pangan seperti halnya dari jagung atau singkong, karena hal ini kontradiktif dengan KETAHANAN PANGAN itu sendiri.
Jangan terpeleset lagi membiarkan calo dan tengkulak bergentayangan di dalam kehidupan keseharian petani kita, sehingga saat panen, harga gabah anjlok serendah-rendahnya (sak pol-pole) sedangkan saat musim tanam dan musim semi harga benih serta harga pupuk na'udzubillah mahalnya.
Kita semua tahu hal itu, karena kita pernah sukses mengelola pangan dan memperoleh penghargaan serta dicontoh oleh banyak bangsa lain di dunia (era Wijoyonomic di awal Orde Baru), akan tetapi mengapa kita "tak mampu/tak mau" mengulangi kesuksessan itu (tanpa harus mengulangi kekurangannya)?.
Itulah pertanyaan orang awam terhadap perubahan politik, lho.... kalau begitu kita harus berkorban demi pilihan politik?, apakah memang kita sudah siap makan politik saja? . Demi harga diri sebagai konsekuensi kesepakatan WTO? waaah kalau yang ini ada cuplikan beritanya sebagai berikut;
Lee Kyung Hae Ketua Kelompok Tani Korea Selatan, rela mati diujung bayonet Petugas Keamanan Mexico, saat dirinya melakukan protes keras terhadap berlangsungnya Konferensi Internasional WTO, di Cancun 10 September 2003 yang lalu. Mengapa? karena protes kerasnya terhadap kebijakan WTO yang tidak berpihak kepada petani miskin tidak pernah digubris.
Mengapa suara petani miskin tidak digubris WTO? berikut cuplikan tulisan dari pemerhati WTO : Telah terjadi ironi bagi negara berkembang anggota WTO, karena negara harus tunduk menjalankan kuwajiban di bawah WTO, akan tetapi perusahaan-perusahaan swasta multinasional-lah yang lebih menikmati keuntungannya. Demi kepentingan perusahaan raksasa lintas negara itulah pemerintah negara berkembang terpaksa mengikuti perundingan keras peraturan global, dan sangat mungkin mengorbankan kepentingan rakyat kecil atau petani miskin (Hira Jhamtani, 2005)
Dan saya yakin hal itu tidak dilakukan oleh pengambil kebijakan di bidang ekonomi, perdagangan dan pertanian demi gengsi, karena .......hanya "pendidikan dan kepedulian" beliau yang bisa menjawab!.
Menutup tulisan ini perkenankan saya menuliskan kembali syair lagu yang selalu kita nyanyikan saat di sekolah dulu (kok jadi sentimentil gini yaah) ;
TANAH AIR

Tanah Air ku tidak kulupakan
Kan terkenang sepanjang hidupku
Walaupun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai Kau kan kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang
Tanahku tak kulupakan
Kau kan kubanggakan.
Sekali lagi "Wallahualam bissawab" yang mana saja yang salah didik soal pangan.

sumber: al. Kompas, Mei 2008

ada komentar tentang tulisan ini dari seorang anak muda lulusan 1990 sebagai berikut:

Ulasan Mas Darsono mengenai salah didik soal pangan ini benar benar menggelitik dan kadang membuat saya tertawa sendiri mengenai kebodohan dan kesalahan yang terus menerus kita lakukan di negara kita.

Hanya sekarang saya jadi berpikir, bagaimana cara mengatasinya. Karena pendidikan untuk sebuah pola pikir dan kebiasaan hidup pasti akan memakan waktu sekian dekade baru bisa diwujudkan. Dan parahnya kalau kita tidak segera mulai akan semakin jauh kita tertinggal dengan negara lain.

Salut Mas Dar... Saya tunggu tulisan lainnya.


Salam,
Pitoni

Alumnus smast '90

KOMENTAR VIA darsanatasiun@gmail.com;

Jumat, 23 Mei 2008

BANGKITLAH PEMUDAKU!


Sebegitu besar dan pentingnya peranan anak muda di dalam melakukan perubahan menuju kondisi yang lebih baik, telah direkam oleh sejarah bangsa ini, sejak merintis kemerdekaan di tahun 1908 sampai pada mereformasi arah pengisian kemerdekaan di tahun1998.
Tak heran bila Bung Karno lebih memilih menggenggam kekuatan bara api semangat seribu pemuda yang akan beliau gerakkan untuk memindahkan gunung Semeru (Mahameru) ke tempat Indonesia sejahtera, adil dan makmur.
Dan sekarang di saat seratus tahun "awal babak baru" kebangkitan kita sebagai bangsa merdeka (20 Mei 1908 - 20 Mei 2008)kembali kita HARUS BANGKIT UNTUK MEMERDEKAKAN PIKIRAN KITA DARI BELENGGU KETIDAKFAHAMAN AKAN ARTI "MERDEKA". Perkenankan saya mengutip ucapan Deddy Miswar melalui layar kaca RCTI yang diputar berulang sejak 20 Mei 2008 pukul 21.05 wib, berupa URAIAN KATA INDAH SEKALIGUS HEROIK, BAHKAN MENGGELITIK nurani anak bangsa yang faham akan arti "MERDEKA" sebagai berikut;


Bangkit itu susah, susah melihat orang susah , senang melihat orang senang.

Bangkit itu takut, takut korupsi, takut makan yang bukan haknya.

Bangkit itu mencuri, mencuri perhatian dunia dalam prestasi.

Bangkit itu marah, marah bila martabat bangsa diinjak.

Bangkit itu tidak ada, tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa.

Bangkit itu malu, malu menjadi benalu, malu karena minta melulu.

Bangkit itu aku, untuk bangsaku.


* dan....Bangkit itu berbuat, berbuat sesuatu untuk mewujudkan secara nyata cita-cita bangsa merdeka yang benar-benar menikmati kesejahteraan bangsanya secara merata!.


Selamat pemudaku, selamatkan bangsa ini dengan gelora semangatmu untuk merdeka!.


Cijantoeng Tiga Jakarta, medio Mei 2008

Darsana Setiawan

Senin, 19 Mei 2008

SEKOLAH MASA DEPAN DI SINGAPURA, DAN BAGAIMANA KITA?


Tahun lalu (Mei 2007), saat diminta menjadi moderator pada Seminar Upaya Peningkatan Mutu Sekolah Bertaraf Internasional di Balai Kartini Jakarta, Saya sudah mengingatkan teman-teman pelakon pendidikan internasional di Jakarta, bahwa Singapura tidak tinggal diam setelah banyak calon siswa mereka yang berasal dari Indonesia beralih ke program pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri.
Salah satu upaya Singapura waktu itu adalah meninggalkan standar mutu internasional "CAMBRIDGE" yang digunakan oleh sekolah-sekolah kita di dalam negeri, dengan standar baru Singapura yang di desain memiliki keunggulan di atas standar CAMBRIDGE.

Dan seperti biasa reaksi teman-teman peserta seminar dan pelakon Sekolah Internasional yang hadir ternyata "tidak bereaksi, bahkan nyaris EGP (Emang Gua Pikirin), atau lebih pantas ditulis disini sebagai omongan orang aneh". Bagi saya perlakuan seperti itu sudah menjadi kebiasaan, karena seringnya pikiran saya dianggap aneh-aneh dan tidak atau sulit untuk dipahami. Sebagai contoh adalah ceramah saya di Aula Masjid Dinas Dikmenti Provinsi DKI Jakarta tahun 2005, dihadapan para Kepala-kepala SMA Negeri se Jakarta, saya mengungkapkan pertumbuhan ekonomi yang spektakuler jauh di atas 7 digit dari China dan India sebagai dampak positif kontribusi pembangunan sektor pendidikan yang juga sangat maju. Saat itu tidak satupun seorang peserta seminar/ceramah yang tertarik untuk menanggapinya, bahkan ada yang bergumam apa hubungannya tugas Kepala Sekolah dengan kemajuan ekonomi dan pendidikan China dan India?.
Dan hari ini, 19 Mei 2009 media MetroTV menggelar diskusi ekonomi makro yang bertajuk "Menanti Kebangkitan Ekonomi" dalam bingkai acara ECONOMIC CHALLENGES yang dipandu oleh Desi Anwar, dengan topik utama mengejar ketertinggalan dari China, India, Brasil dan Rusia..
Sungguh saya memang harus lebih banyak lagi belajar..."bersabar"...untuk menunggu, atau memang apa yang ada di benak saya saat itu salah tempat dan salah waktu.
Hari ( Sabtu, 17 Mei 2008) saya memperoleh informasi Koran SINDO yang merilisnya dari salah satu Media Corp Singapura yaitu surat kabar ToDAY (www.todayonline.com) tentang SEKOLAH MASA DEPAN di SINGAPURA yang sudah pernah saya dengar dan ketahui sejak tahun 2005 melalui seorang pembicara tamu dari Singapura (Pak Chong) dengan informasinya tentang IDEA CENTRE sebagai induk dari Technoprenership yang sedang berkembang saat itu.
SEKOLAH MASA DEPAN yang sedang digarap di Singapura, merupakan sekolah yang berbasis ICT (Information Communication and Technologi) secara riil.
Artinya seorang pembelajar akan terfasilitasi kebutuhan belajarnya dengan sarana ICT yang ada, seperti halnya berkomunikasi langsung via internet dengan pakar sains biologi saat sang pembelajar berada di Kebun Binatang sambil secara aktif melaporkan aktivitas pengamatannya melalui note-book komputer yang ada di tangannya, sementara pembelajar yang berhalangan hadir mengikuti studi ekskursie di lapangan, dapat menggunakan fasilitas ICT sehingga seolah-oleh dirinya juga sedang berada di hutan atau kebun binatang sebagai "habitat" dari objek biologi yang dipelajari.Ruang Kelas disini bisa secara mendadak berubah menjadi "hutan virtual" sehingga siswa dapat meneliti spesies yang tidak pernah mereka temukan di dalam lingkungan rumah mereka, serta mendiskusikannya (via internet) bahkan dengan para ahli klasifikasi hewan maupun tumbuhan sekalipun. Inilah yang disebut dengan Kelas Empat Dimensi dari Sekolah Masa Depan.
Kelas yang mampu memfasilitasi praktikum kimia, tanpa bahan kimia dan tanpa takut terjadi kerusakan atau ledakkan sebagai akibat kesalahan reaksi, karena dilakukan secara "maya" melalui tangan-tangan yang aktif memegang "gambar/bayangan" peralatan kimia (tabung reaki, pipet, corong, erlen meyer, statif, pipa ukur), lengkap dengan perubahan warna hasil reaksi serta simulasi asap serta bau yang ditimbulkannya. Laboratorium yang didukung oleh solusi teknologi bagi berlangsungnya PEMBELAJARAN KREATIF memang didesain sebagai laboratorium dengan fungsi multi-sensor disertai fasilitas ICT yang dapat meniru berbagai macam lingkungan yang dibutuhkan pembelajar, sudah dapat dinikmati oleh para siswa mulai akhir tahun 2008 ini. Tak kurang dari 4 Konsorsium Internasional melibatkan diri ke dalam mega proyek spektakuler ini seperti Hewlett-Packard dari Inggris, Sing Tel, ST Technologies dan CIVICA, dengan biaya tak kurang dari $ 80 juta Singapura. Proyek ini sedang dipersiapkan di 5 Future School yaitu Beacon Primary, Canbera Primary, Cresent Girl's School, Hwa Chong Institution dan Jurong Secondary, termasuk pelatihan bagi para Guru yang akan siap melayani proses pembelajaran secara profesional.
Salah satu pejabat pada Kementerian Pendidikan Singapura, DR.Koh Thiam Seng mengatakan "ICT akan menghapuskan kendala sekat 4 sisi dinding kelas di sekolah dengan peluang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar siswa melalui fasilitasi secara utuh" (holistic).
Sebelum tahun 2005, saya pernah meminta kepada pihak-pihak di sekolah untuk berani melakukan perubahan layanan laboratorium konvensional IPA dengan "VIRTUAL LAB" melalui ruang audio visual dengan bermodalkan hard-ware in-focus dan PC Computer dan soft-ware praktikum IPA di sekolah.Kelebihan virtual lab antar lain keleluasaan manipulasi serta keamanan bekerja serta murahnya biaya yang terbebas dari bahan kimia (yang sangat mahal harganya).
Salah satu kelemahannya adalah rendahnya aktivitas kinestikal yang didominasi oleh penggunaan jari-jari di atas keyboard komputer, namun sekarang sudah dapat tereduksi dengan aktivitas maya model "touchscreen" pada gambar/bayangan objek benda yang dipegang atau digerakkan.
Kalau saat ini ratio penggunaan komputer di sekolah kita baru pada posisi 1:20.000 maka dalam waktu singkat kita berupaya merubahnya (secara spektakuler??) menjadi 1:20, walaupun salah satu negara miskin di Afrika seperti Nigeria dan Rwanda, sudah memulai dengan proyek ONE LAP-TOP PER CHILD (OLPC).OLPC(satu laptop untuk setiap anak)atau The Children's Machine atau XO-1 atau Laptop $100 adalah sebuah program penyediaan laptop dengan harga terjangkau untuk anak-anak di seluruh dunia, khususnya anak-anak di negara berkembang, dengan harapan bahwa mereka dapat mengakses pengetahuan dan pendidikan modern melalui ICT, sehingga tidak terjadi KESENJANGAN DIGITAL.Dikemudian hari OLPC menjadi nama dari sebuah organisasi nirlaba yang dibentuk oleh anggota MIT Media Lab. Organisasi ini bertugas mendesain , membuat dan mendistribusikan laptop yang dimaksud. Program ini diprakarsai oleh Nicholas Negroponte.
Laptopnya sendiri berupa komputer mini yang membutuhkan tenaga sangat minim, menggunakan flash memory menggantikan hardisk, serta menggunakan linux sebagai sistem operasinya basic-nya. Dalam perkembangan terakhir, Produsen software terbesar di dunia Microsoft Corp telah memodifikasi sistem operasi Windows XP sehingga dapat dijalankan pada laptopXO buatan yayasan OLPC (semula laptop XO hanya dioperasikan dengan sistem open source SUGAR yang berbasis LINUX dengan alasan biaya/harga) LaptopXO dilengkapi dengan Mobile ad-hoc networking yang akan digunakan untuk memungkinkan beberapa laptop dapat mengakses internet secara bersama-sama dari satu akses internet saja.LaptopXO OLPC ini akan dijual kepada pemerintah-pemerintah negara berkembang yang berminat (namun ternyata AS juga memesannya) yang kemudian akan dibagikan secara cuma-cuma kepada setiap anak di sekolah.Harga awal diharapkan berkisar US$135-140 (sekitar Rp 1.200.000,- dengan kurs Rp 9000/US$ 1) dan ditargetkan bisa mencapai US$100 (sekitar Rp 900.000,- dengan kurs Rp 9000/US$ 1) pada tahun 2008.Pada Februari 2007, Quanta Computer, sebagai kontraktor pembuat proyek mengatakan bahwa mereka sudah mengkonfirmasi pesanan untuk satu juta unit di beberapa negara pemesan. bahkan mereka mengindikasikan bisa mengirim lima juta hingga 10 juta unit dalam waktu 1 tahun karena tujuh negara sudah berkomitmen untuk membeli XO-1 untuk anak-anak sekolahnya.Negara-negara itu adalah Argentina, Brazil, Libya, Nigeria, Rwanda, Thailand dan Uruguay. Namun pemerintahan junta militer Thailand membatalkan partisipasi negaranya . setelah mereka mengambil alih kekuasaan melalui kudeta militer pada tahun 2006.
Tahun 2008 pesanan laptopXO berkembang menjadi lebih luas, mencakup negara-negara seperti :Argentina ,Brazil ,Kamboja ,Costa Rica ,Republik Dominika ,Mesir ,Libya ,Nigeria Pakistan ,Rwanda ,Tunisia Amerika Serikat (terutama negara bagian Massachusetts dan Maine) dan Uruguay.
Karena proyek OLPC menggunakan prosesor Geode buatan AMD, maka Intel memutuskan untuk menciptakan Classmate PC yang mengusung prosesor Celeron sebagai kompetitornya. Prototipe laptop ini menggunakan layar LCD berukuran 7 inci.Classmate PC berbeda dengan OLPC. Classmate menyertakan modul TPM (Trusted Platform Module) dari Infineon Technologies yang memungkinkan pemasangan sistem operasi Windows XP Embedded dari Microsoft. Di sinilah letak perbedaan tujuan kedua proyek besar itu. Proyek Classmate dimaksudkan untuk menyediakan teknologi paten tanpa kompromi yang dapat digunakan untuk memasuki lingkungan komputasi lebih tinggi (kebanyakan berbasis Windows, sedangkan OLPC bertujuan memperkenalkan anak-anak kepada sebuah lingkungan perangkat lunak open-source yang gratis dan bisa dimodifikasi sendiri sesuka hati mereka).Intel memgumumkan bahwa mereka sedang mendiskusikan nota kesepahaman dengan pemerintah Meksiko untuk menyuplai 300.000 laptop. Seakan tidak mau kalah, pemerintah Brazil juga sedang mempertimbangkan pembelian Classmate PC atau OLPC. Pemerintah Brazil menegaskan bahwa mereka akan tetap menggunakan sistem operasi berbasis Linux, tidak peduli laptop apa yang akhirnya dipilih. Intel juga sudah memastikan akan mengirim laptop ini dengan bundel sistem operasi Mandriva Linux .

Lalu kapan Indonesia melibatkan diri dalam program tersebut, mengingat sekolah masa depan kita juga tak akan mungkin menghindar dari ICT?.Terserah bagaimana kita mensikapinya, apakah tetap terdiam dan terpaku karena ketidak fahaman, atau memang sudah menjadi hobby menurun yang lebih senang menonton saja, dari jauuuuh pula.
Ya Ampuuuuuun.....geregatan sendiri aku!!!!!

sumber :
http://darsanaguru.blogspot.com/
http://edukasipress.wordpress.com/
SINDO dan Wikipedia

Senin, 07 April 2008

APA YANG LUCU DAN ANEH DARI PERJALANAN MUHIBAH (1)

HARI PERTAMA Rabu tanggal 19 Maret 2008.
Menikmati perjalanan ke Kuala Lumpur dengan Emirates Airlines malam hari, apanya yang aneh?.....rasanya memang nggak ada, semuanya berjalan mulus karena layanan penerbangan yang memang profesional. Bisa nonton TV di depan mata (dibalik jok tempat duduk kursi yang ada di depan kita duduk), atau main game untuk mengisi waktu serta membunuh kebosanan karena duduk di dalam pesawat, walaupun kursi di dalam pesawat sudah didesain secara argonomis. Kita juga bisa ikut melihat posisi bawah pesawat yang kita tumpangi saat take-off ataupun landing,karena ada camera di bagian bawah body pesawat. Makanan dan minuman yang dihidangkan, yaaah standar menu "lidah" internasional, bahkan kalau ada yang ingin minum beer atau "beer hitam?" disediakan dan dilayani dengan cara yang sangat ramah serta menyenangkan. Saya saat itu cukup meminta air putih saja, dan jawaban pramugari (sambil bereaksi agak aneh,karena dilayani yang enak-enak kok mintanya cuman air putih) dengan suara lembut sang parmugari berkata "air putih sudah ada di hadapan anda, langsung saja dinikmati dan kami akan melayani anda sekiranya ada permintaan lain yang dapat kami berikan atau kami sediakan". Memang ada yang aneh?. Anehnya dimana?.

Emirates Airlines adalah salah satu maskapai penerbangan internasional yang memang "perfect" mengutamakan kepuasan pelanggannya (Customer satisfaction) melalui standar mutu "global". Semula saya mengira para pramugarinya pastilah orang-orang timur tengah,atau setidaknya wanita muslim yang berjilbab, dan hal itu memang terbukti saat saya mulai memasuki pesawat dan kemudian duduk sambil menunggu pesawat "take off".Naah, setelah pesawat mengudara dan para crew pesawat mulai bersiap-siap melayani penumpang, topi dan kerudung tipis yang semula menutupi sebagian wajah ditanggalkan/dilepas sudah (secara pribadi sebenarnya saya kecewa, karena kecantikan dan keindahan busana bertopi dan berkerudung tipis telah hilang, walau untuk sementara) . Ternyata para pramugari yang bekerja secara cekatan (cepat, tepat dan trengginas) itu tidak hanya wanita-wanita timur tengah, karena ada yang wanita bule, wanita turunan India, bahkan adapula yang turunan China.Pekerjaan pelayanan yang dilakukan secara rapi sambil terus mengumbar senyum, memang hanya dapat dilakukan melalui pelatihan atau pendidikan secara profesional, dan yang penting bukan hanya ketrampilan (psikomotor) serta kognisi(kecerdasan intelektual) nya saja yang baik, akan tetapi sikap mental/karakter/komitmen (afeksi)-nya juga harus baik. Itulah hasil nyata proses pelatihan/pendidikan yang profesional, berstandar mutu internasional, karena saya tidak melihat satu penumpangpun yang mengeluh, apalagi cemberut karena layanan pramugari yang (maaf saya menyebutkannya) "cuek bebek" seperti pada perjalanan dengan maskapai penerbangan "LOW COST INDONESIA".
Saya jadi teringat dengan pengalaman layanan maskapai penerbangan "LOW COST INDONESIA" yang menyebalkan, saat secara mendadak saya harus pergi dengan dari Bandara Soekarno-Hatta dan mencari tiket langsung (Go-Show)di depan loket resmi. Ternyata saya dibawa langsung melalui calo masuk ke loket boarding (di bagian dalam) dan disitulah saya harus mengikuti lelang tawar menawar tiket dengan calon penumpang lain yang juga akan terbang ke jurusan yang sama (Solo). Walhasil tawaran tertinggi dan berhasil memperoleh tiket terbang adalah seorang penumpang pria berdasi, pakai peci, bawa tas tenteng yang keren (dalam hati saya berpikir waaah orang ini mesti pengusaha kaya yang sedang menjalankan bisnisnya), dan untuk itu saya perlu menghampirinya dan megucapkan "selamat". Betapa terkejutnya saya, ternyata pemenang lelang tiket pesawat ke Solo tersebut adalah teman kuliah di S3, yang sedang menjalani tugas ke daerah. Dengan tersipu malu teman tadi cepat-cepat meninggalkan pembicaraan sambil "say hello". Bagaimana ceritanya tiket pesawat terbang kok dilelang saat jadwal waktu penerbangan sudah masuk, dan tentunya pesawat baru akan diterbangkan setelah hasil lelang tiket diputuskan. Betapa murahnya harga penundaan jadwal penerbangan yang hanya setara dengan harga lelang satu buah tiket perjalanan Jakarta ke Solo???, dan hal ini konon masih terus berlangsung hingga saat ini!!!,edan tenan.
Pantaslah kalau ada berita di media TV yang mewartakan adanya seluruh penumpang yang geram, marah bahkan seolah tak percaya lagi dengan janji-janji penundaan pemberangkatan pesawat terbang, sehingga mogok untuk tetap duduk di dalam pesawat sampai tiba saatnya diterbangkan kembali. Itulah bedanya hasil pendidikan/pelatihan pelayanan yang berkualitas tinggi dan berintegritas tinggi dengan pendidikan/pelatihan pelayanan yang ala kadarnya (daripada tidak di didik/dilatih).
Semestinya tiket "LOW COST" maskapai penerbangan apapun tetap harus menjamin kualitas layanan yang memuaskan, DAN MENJAMIN KESELAMATAN PENUMPANG SAMPAI DI TEMPAT TUJUAN, namun para pengelola maskapai penerbangan tertentu mungkin sudah ada yang berkilah dengan mencari pembenaran (ala tukang becak), "Wis mbayare murah njaluk slamet maneh, endhi onok" . Haaah yok opo seeh iki?.

Sabtu, 01 Maret 2008

ANALOGI BANJIRNYA KALI KRESEK

Setiap kali saya bermain di kolam renang Tirtayasa (Kuwak), ataupun di kolam renang Paggora, perjalanan saya selalu melewati kali Kresek yang berada di sisi timur Taman Makam pahlawan Kediri, atau disebelah barat dari Asrama Polisi. Ciri khas kali Kresek di kawasan itu adalah dasar kali yang berbatuan, besar-besar lagi. Setelah belajar di SMA, saya baru mengetahui bahwa kali Kresek bermuara ke sungai Brantas yang berada di daerah Gampengrejo,seiring dengan meningkatnya frekuensi kunjungan saya ke rumah mbah kakung (mbah Lurah Tosari Nurhasyim) di desa Juwet Minggiran.

Lalu ada apa dengan kali Kresek, nah berita media cetak kemarin sedikit mengejutkan saya, karena limpahan air kali Kresek meluber kemana-mana sehingga membanjiri lahan persawahan yang siap panen di empat desa daerah Gampengrejo yaitu, Kewadungan, Sambirejo, Mutih dan Karangrejo.
Dipastikan sekitar 95 hektar sawah di sepanjang kiri dan kanan kali Kresek akan gagal panen periode ini, padahaldalamkondisi ekonomi yang susah seperti sekarang para petani hanya megantungkan nasib ekonominya dari kegiatan bertani.
Kalau banjir karena luapan air kali,….kan terjadi dimana-mana, di seantero wilayah tanah air kita, sehingga bukan lagi suatu peristiwa luar biasa, apalagi banjirnya cuman dalam wujud air dan paling-paling 4 sampai 5 hari juga sudah surut dan selesai. Sedangkan di Porong Sidoarjo ada banjir yang berlangsung bertahun-tahun tidak pernah surut, luberannya bukan hanya air tapi mayoritas luapan lumpur panas ditambah gas berbahaya lagi,…..anehnya tidak ditindak-lanjuti sebagai peristiwa darurat luar biasa yang harus segera di selesaikan secara tuntas. Saya membuat analogi ini bukan untuk mengecilkan arti penderitaan para petani disepanjang kali Kresek yang kebanjiran, akan tetapi sekedar mengingatkan bahwa kita harus bersiap-siap kecewa manakala “sekedar mengharapkan bantuan dari instansi publik, mengingat beliau-beliau yang di Jakarta saja sedang pusing menjalankan perintah Presiden untuk menuntaskan luapan lumpur Sidoarjo”. Anda mungkin tidak akan percaya, bahwa seorang Presiden sampai harus memindahkan kantornya ke lokasi musibah, dan mengendalikan pemerintahannya dari tempat terjadinya bencana. Salah satunya adalah Presiden SBY kita, yang menginstruksikan langsung untuk penuntasan masalah luapan lumpur dan gas berbahaya, sehingga masyarakat miskin yang menderita tidak terus berkelanjutan teraniaya oleh urusan bisnis yang mengawali kejadian musibah tersebut.
Koran Kompas pernah memuat berita (yang seharusnya menggembirakan kita) bahwa ada pihak pengusaha kontraktor teknik dari Jerman, yang sanggup menghentikan semburan lumpur di Sidoarjo tersebut dengan kompensasi biaya sekian juta $ US. Namun saya dan anak-anak saya bersepakat dalam satu pendapat bahwa tawaran itu pasti ditolak (oleh beliau-beliau?), dengan perkiraan positif bahwa pihak pelaksana teknis bisnis pengeboran masih sanggup melaksanakan “penghentian semburan lumpur”, sedangkan perkiraan negatifnya ikuti saja cara-cara China, yang piawai dan sukses dalam menjalankan pencurian teknologi tinggi seperti halnya negara tetangganya Jepang. Mohon diartikan saya menulis bisnis pengeboran dengan huruf tebal, dengan sengaja agar tidak diplesetkan dalam pengambilan peran tangung jawabnya, mengingat diskusi di gedung parlemen sudah diarahkan bentukkan opininya bahwa semburan lumpur dan gas itu bukanlah tujuan bisnis, karena tidak akan mendatangkan keuntungan apapun bagi pihak pengebor!.
Jadi masalah yang terjadi adalah kesalahan pelaksanaan teknis dari proses pengeboran, atau yang sering disebut secara umum sebagai bencana teknologi, karena semburan lumpur dan gas itu terjadi sebagai akibat adanya aktivitas teknologi. Itulah kondisi faktual yang secara kronologis dapat dilaporkan dalam berbagai laporan ilmiah bidang teknologi, sebagai pembelajaran bagi generasi masa datang. Janganlah kita merekayasa proses kejadian kesalahan penerapan bencana teknologi sebagai ekspresi upaya manusia untuk meningkatkan kesejahteraannya, dengan mengalihkannya menjadi peristiwa alam sehingga kejadian tersebut menjadi bencana alam.
Di posisi cara berpikir inilah kita sekarang sedang diuji untuk berani jujur mengakui akan kesalahan dan keterbatasan sebagai hamba, karena Tuhan akan marah manakala muncul kesombongan dalam diri manusia yang melakukan pembenaran dengan meyalahkan rencanaTuhan dalam bentuk pemberian label penyebab semburan lumpur dan gas beracun sebagai bencana alam, alias di luar tanggung jawab penyebab manusiawi. Persis seperti terjadinya banjir karena meningkatnya debit air sungai di luar kapasitas sungai bersangkutan, sebagai akibat menurunnya penyerapan air karena hutannya digunduli orang. Kemudian kita memberikan label bencana alam, sementara bos-bos pembalak hutan dengan bebas menikmati hasil bisnis dan menanam dananya sebagai devisa tambahan justru di negara lain.
Tidak mudah memang, namun harus kita mulai dari sekarang, untuk berani mengambil resiko tanggung-jawab bisnis yang merugi. Jangan berdagang hanya mau untungnya saja, karena keuntungan itu adalah rejeki yang menjadi hak serta skenarionya Allah, kecuali memang dengan sengaja akan mengingkari hakikat keimanannya. Naudzubillah mindzalik.
Kita selayaknya takut untuk berbuat tidak adil kepada sesama hamba Tuhan, tapi selayaknya kita juga takut kepada pencatutan skenario Allah dalam proses bencana alam.

Analogi banjirnya kali Kresek memang jauh dari penyebab bencana teknologi, namun patut disyukuri bahwa setidaknya kita tidak lagi menyatakan penyebabnya sebagai bencana alam pada luapan air bah di kali Kresek, karena kita juga tahu, bahwa terjadi penyempitan lebar kali karena adanya pengembangan tata bangunan di wilayah tertentu, serta meningkatnya debit air sebagai akibat penebangan pohon di lereng gunung Kelud yang menjadi lokasi hulu kali. Dengan demikian kita sudah berusaha menjauhi dosa dengan cara menutupi dosa melalui skenario Tuhan yang bernama bencana alam. Bagi mereka yang tidak sepaham dengan pemikiran seperti ini adalah hak mereka pula, karena memang Tuhan Maha Kaya dengan segala bentuk variasi serta formulasi pikiran hamba-hambaNya.

Jakarta, 1 Maret 2008

Selasa, 26 Februari 2008

Jepang telah Meluncurkan Satelit yang mampu mengakses Internet Super Cepat, untuk perkembangan medik dan pendidikan bagi masyarakat dunia.



(CNN) Jepang telah meluncurkan roket yang mengangkut satelit dalam rangka mempersiapkan layanan informasi & teknologi akses layanan "Internet dengan kecepatan tinggi" bagi warga masyarakat dunia, baik di rumah maupun di kantor di-seluruh-dunia. Sebuah roket yang membawa satelit internet super cepat lepas landas dari sebuah pulau yang bernama Tanagashima di Jepang.

Satelit WIND - yang merupakan proyek bersama antara Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dan Mitsubishi Heavy Industries meluncur pada jam 5:55p.m(0855GMT). Manakala Satelit tersebut dapat berfungsi sempurna, maka para pelanggan akan terhubung dengan internet yang memiliki akses kecepatan lebih tinggi dari pengguna kabel atau layanan DSL yang selama ini melayani seluruh masyarakat dunia. Kantor berita Asosiasi pers (AP) mengatakan bahwa satelit tersebut dapat menghantarkan kecepatan muatan informasi sampai 1.2 giga-bytes per detik, dan diutamakan untuk pengguna pada regional Asia-Pasifik yang lebih dekat dengan Jepang.

JAXA` selanjutnya menginformasikan bahwa, teknologi ini sangat berarti bagi perkembangan ilmu kedokteran, kesehatan dan pendidikan melalui aktivitas “telemedicine” serta “distance Learning”, yang akan membawa layanan pengobatan dan akses pendidikan jarak jauh yang berkualitas tinggi bagi masyarakat tertinggal, yang hidup di daerah terpencil/terisolir.


Komentar: waah,... sudah ada layanan 3G dari operator selluler yang "murah meriah" ada saingan baru lagi yang akan membuat lebih murah akses internet kita ke depan. Memang informasi dan komunikasi seharusnya sudah menjadi hak publik kok. Hanya karena kita-kita yang "gatek" saja menjadi korban mereka yang lebih ngerti dan punya dukungan finansial untuk mengolahnya menjadi pelanggan (ketergantungan) bagi penyediaan fasilitas IT-nya.



Sumber Utama artikel Klik http://edition.cnn.com/2008/TECH/02/23/japan.satellite/index.html?eref=edition
sumber : http://udaramaya.com/

Jumat, 22 Februari 2008

PIKIRAN ANAK SMA SEKARANG



Pagi ini di depan lap top, sambil makan tempe goreng dan minum teh (soalnya daging empal sapi lagi menghilang dari pasar tradisional) saya di minta membantu "mas Iman" anak ragil(anak bontot) untuk nge-print tugas sekolahnya. Sambil membetulkan posisi disk-drive, saya membuka file dari disket kecil yang diketik "mas Iman" semalaman, dan betapa terkejutnya saya membaca berbagai tulisan tentang kehidupan sosial kemasyarakatannya yang ternyata dituangkan mirip-mirip cara dan gaya saya menulis. Wah...ibarat biji tak mungkin jatuh jauh dari pohonnya, dan memang salah satu tulisannya yang akan saya angkat di blog ini bertemakan tentang "Pohon". Diakhir tulisan mas Iman, saya baru akan memberi komentar, dan nanti setelah sang anak bontot pulang sekolah akan saya berikan print-out komentar saya tadi.
Selengkapnya tulisan mas Iman adalah sebagai berikut;

Sosialisasi Multimedia
Saat saya mengenal multimedia umur 9 tahun saya mengenal itu saat saya menonton tv dan ada berita tentang pembabatan pohon di sepanjang jalan raya antara Surabaya sampai Banyuwangi Jawa Timur, lalu saya berfikir buat apa sih pohon itu ditebang….. lalu saya binggung, kok dibiarin saja orang memotong pohon, malah seperti didukung. Nah pada saat saya berumur 12 tahun, saya baru tau kalo pembabatan liar terhadap pohon di hutan itu untuk di jual, dan mereka nggak mikir kalau selama ini terjadi banjir, antara lain karena tidak adanya pohon yang menahan air , hutannya pada gundul, sehingga sekarang banjir begini. Mengapa pak Polisi Kehutanan membiarkan mereka membalak hutan?, itu pemikiran saya pada umur saya yang ke 13.
Saya ingin ngebantu tapi saat itu tv hanya menyiarkan berita singkat , saat itu kan saya belum mengerti bagaimana menanggulanginya, kemudian saya di kasih tau oleh bapak saya begini; “penyebab banjir itu karena pohon yang di tebangi secara liar, dan dibiarkan bebas untuk merusaknya, baik yang di hutan Kalimantan maupun yang di Sumatera, bahkan yang di pulau Jawa”. Kalau ada yang diadili sebagai pembalak liar, malah bebas, dan melarikan diri ke luar negeri, agar dapat menikmati uang penjualan kayunya. Dan masyarakat kita yang ditinggalkan kebanjiran, merana, sengsara, hidup nestapa.
Sekarang sedang digalakkan penanaman berjuta pohon, seluruh masyarakat diajak menanam pohon, dan hal itu adalah sesuatu yang baik. Tapi saya bertanya lagi, nanti kalau sudah pohonnya besar, lalu di potong secara liar lagi bagaimana, kan banjir lagi. Guru di sekolah selalu menasehati, kalau ada masalah selesaikan dari yang kecil-kecil dulu, mulai dari dirimu sendiri dulu, dan lakukanlah saat ini juga. Jadi mestinya masalah pembalakan hutannya diselesaikan sekarang juga, baru kita menghijaukan lagi dengan menanam pohon.
Sejak saat ini pun saya tidak ingin memotong pohon, karena kalau bukan kita yang menjaganya, lalu siapa lagi, padahal saya nggak kepingin jadi Polisi Kehutanan, habis galakkan yang membalak hutannya sih, apa karena “bos pembalak” banyakkan uangnya kali ya?.

Komentar Saya:
Anak kelas 10(SMA kelas I), mengungkapkan kegundahan hatinya terhadap tatapan masa depannya, yang tidak begitu menggembirakan karena terusiknya "rasa keadilan" dalam bathinnya.
Kepolosan pikirannya mengungkap betapa tidak adilnya pemburuan penjahat kelas kakap yang menghancurkan bangsa dan negara terlihat di depan matanya dengan menyebut :Kok pembalak hutan bisa bebas dari hukuman, dan bisa melarikan diri dengan melenggang ke Luar Negeri untuk menikmati hasil balakannya dengan besaran jutaaan US dollar (karena kalau di kurs rupiah uang tersebut akan kehabisan seri nomornya, alias rupiah tak ber-seri). Mengapa penjahat yang dinyatakan sebagai teroris dengan mudah dapat ditangkap dan diobrak abrik sindikasinya? (apa karena mereka miskin, sehingga dana transfer dari sumbangan yang dihimpun mudah dilacak?. Mengapa kartel narkoba di tanah air bisa diungkap oleh BNN, padahal duit penjualan barang terlarang tersebut tidak kalah gedenya dengan uang balakkan pohon yang menggunduli bagian tengah hutan di pulau Kalimantan dan Sumatera?.
Kasus pembalakkan hutan ini memang penuh dengan "misteri", kalau tidak mau disebut dengan SANGAT MISTERIUS TAPI MENGGELIKAN". Kayu glondong balakkan yang sedang ditarik oleh truck tronton keluar dari hutan, saat ditangkap oleh sejumlah petugas keamanan, ee...ee...malah petugasnya lari tunggang langgang karena dikeroyok seluruh masyarakat kampung di sekitar kejadian....(ha? fenomena apa yang sedang terjadi sekarang ini?).
Dapat dipastikan bahwa banjirnya kota-kota di sepanjang tepi utara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur saat ini, disebabkan oleh gundulnya hutan pohon Jati milik "kehutanan", dan itu terjadi didepan mata kita semua.
Di sisi lain, anak bontot saya "mas Iman" juga bingung, mengapa kita diajak rame-rame menanam berjuta pohon, sementara masalah penebangan liar terhadap pohon serta pembalaknya tidak diprioritaskan untuk segera diselesaikan.
Saya memahami pikiran anak muda saya ini, karena dia pernah memperoleh pembelajaran dari ngajinya seperti yang difirmankan Allah SWT di dalam surah Al Baqoroh yang saya kutib sebagian ini; "pagi hari seseorang menenun benang sampai menjadi selembar kain, dan pada malam harinya benang itu dilepasnya satu per satu dari tenunan kain, sehingga menjadi uraian benang panjang lagi". Itu peringatan Tuhan kepada hambaNya yang mau diperingati, bagi yang tidak mau diperingatkan Tuhan, ya silahkan "lakum dinukum waliadi" saja.

Jangan sampai kepleset, bahwa mas Iman dan bapaknya (saya) sangat setuju dengan "reboisasi" melalui penanaman berjuta pohon, namun saya lebih setuju kalau pembalak hutannya SERIUS DAPAT DI TANGKAP, sekali lagi SERIUS DAPAT DITANGKAP dan dihormati hak-haknya di depan pengadilan untuk melakukan pembenaran terhadap kejatahannya?.
Mudah-mudahan sekarang tidak bingung lagi, atau malah jadi bingung....
Wallahu alam bissawab.

Selasa, 19 Februari 2008

FENOMENA BANJIR YANG MENYENGSARAKAN DAN MENGHIBUR?


Bagi kita, seolah datangnya musim hujan dan terjadinya banjir bukan lagi merupakan suatu hal yang dikotomis, akan tetapi kejadian keduanya justru merupakan hal yang komplementer (saling mengisi). Namun kali ini saya tidak ingin mengangkat tulisan tentang pembangunan yang tidak “utuh” (holistic) serta tidak pula mampu melihat dan memprediksi jauh ke depan (outword-looking), sehingga terkesan sebagai program pembangunan tambal sulam, parsial, asal-asalan bahkan short term oriented pada pagu anggaran se-tahunan.


Saya hanya ingin mengenang masa kecil di tahun enampuluhan dengan banjir-nya kota kelahiran saya Kediri, yang terjadi pada setiap musim hujan. Apanya yang aneh dengan musibah banjir tahunan itu sehingga saya perlu menuliskan kembali “sesuatu yang mengganjal pikiran saya sejak kecil”, karena banjir yang melanda hampir seperempat luas kota Kediri itu justru menjadi tontonan rutin bagi sebagian masyarakat yang tidak terkena musibah, dan dianggapnya sebagai sesuatu yang “menghibur”. Manakala banjir hanya setinggi lutut di wilayah terendah yaitu di depan masjid besar dan alun-alun, maka hal itu dianggap kejadian biasa-biasa saja, dan seolah tidak ada yang perlu ditanggapi, karena rutinitasnya musim, memang harus banjir. Yang aneh justru harapan masyarakat yang tidak terkena banjir, agar sang banjir semakin membludak dan permukaan air semakin tinggi menggenangi atap-atap rumah di daerah Kauman. Manakala batas luberan air banjir ini sudah melewati gedung bioskop REX, maka segera kabar “gembira” itu menyebar ke seluruh pelosok kota, dan tak pelak lagi jalan Dhoho ke selatan (perempatan sumur bor) akan penuh sesak oleh warga yang ingin menonton dan menikmati luapan sungai Barntas itu dengan wisata perahu-nya di tengah kota.

Berita besar kecilnya luapan banjir yang akan terjadi di kota Kediri, juga bisa di deteksi dengan kondisi ditutup tidaknya lalu lintas darat yang melewati jembatan (kreteg) Ngujang (Jalan antara Kediri dan Tulung Agung), sehingga para “penggemar banjir (?)” dapat mengantisipasi perlu tidaknya menonton dan menikmati banjir di tengah kota. Inilah kasus kemanusiaan yang disebut dengan ketidakpedulian-sosial , atau dalam istilah psychology-nya Jerome K & Yulius Segal (1992) disebut sebagai bystander apathy.Tulisan Abdul Mu’ti (Direktur Eksekutif CDCC Jakarta) pada harian SINDO 15 Februari 2008 yang berjudul Bencanataintment, menarik perhatian saya untuk membahas fenomena sosiologis seperti ini. Bencana ternyata tidak selalu monofocus pada satu layar kemanusiaan dari angle warga masyarakat yang menderita kerugian harta, benda bahkan mungkin nyawa sekalipun, akan tetapi sudah bias sampai pada layar komoditas hiburan dan komoditas politik serta komoditas-komoditas yang lain.Kita masih ingat kasus bencana Tsunami di Aceh, dengan munculnya kasus bantuan yang mengendap di gudang-gudang dalam penguasaan Lembaga Swadaya Masyarakat tertentu, sementara masyarakat yang membutuhkan “ngap-ngapan” menunggu bantuan. Kita juga masih ingat, bahwa kejadian bencana, telah menjadi objek pergulatan persaingan pengaruh kekuasaan serta dukungan politik, yang bersifat seremonial, bahkan nyaris menjadi iklan partai politik melalui liputan televisi, karena dengan sengaja disiarkan berulang-ulang, demi kompensasi biaya, dan atas nama keseimbangan berita.Selanjutnya Abdul Mu’ti menyebutkan bahwa maraknya sikap asosial dari para penjual dan penonton musibah, bencana kemanusiaan ini merupakan fenomena tersendiri dari kerusakkan moral serta keroposnya bangunan sosial. Dicky S,Phd, dosen psikologi sosial Universitas Gadjah Mada, saat memberikan perkuliahan yang saya ikuti pada tahun 1992, sudah memprediksi makin berkembangnya masalah ketidak pedulian-sosial (psikologi sosial negatif) ini, seiring dan sejalan dengan meningkatnya penganut faham materialism-konsumerism, di tanah air. Bahkan satu dekade sebelumnya hal itu telah melanda Amerika Serikat dan sebagian daratan Eropa.


Waah, saya kok jadi serius ngomong mimbar akademik segala…..padahal kejadian yang saya alami saat ikutan menonton banjir, sambil membawa bekas bola lampu pijar yang diikat tali rami dan dihubungkan dengan sepotong bambu untuk mencari jejak agar tidak masuk ke lubang got, hanyalah peristiwa anak Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) yang bertanya-tanya pada dirinya, “mengapa musibah justru ditonton dan dianggap sebagai suatu objek hiburan?”. Bystander apathy, merupakan realitas sosial yang sudah dianggap lazim terjadi dalam kehidupan masyarakat modern, karena pengaruh banyak hal dalam kaitan hubungan kemanusiaan, antara lain; kurangnya keakraban (intimacy), rendahnya kebersamaan (cohesiveness), dan kondisi kurang saling mengenal (anonymity). Padahal itu semua dapat dipenuhi melalui aktivitas lingkungan yang sarat dengan makna dan kepekaan sosial seperti; kerja bakti warga, arisan warga, silaturochim antar warga. Namun karena solusi itu “murah meriah dan mudah” untuk dilaksanakan, masyarakat yang sudah terlanjur bersikap materialism dengan selera tinggi serta tinggi pula sifat konsumerisme-nya, menganggap langkah dan tindakan yang peka sosial itu justru suatu anomaly social (kelainan sosial).

Lho, kok jadi begini? .

Jamannya memang jaman edan,…………


Cizantoeng tiga, medio tengah Februari 2008. Darsana Setiawan (adike Basuki-tasiun)

KEMENANGAN BARACK OBAMA KEMENANGAN RAKYAT INDONESIA JUGA


Judul tulisan ini mungkin mewakili harapan sebagian besar rakyat Indonesia, pada pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) bulan Nopember 2008 mendatang, walaupun sampai saat tulisan ini saya buat, kepastian menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat-pun masih dipertarungkan antara Barack Obama dengan Hillary Clinton. Namun tidak berlebihan kiranya menukil sekilas kehidupan salah satu calon presiden dari Partai Demokrat yang mulai populer di AS, mengingat hasil akhir pemilihan di berbagai negara bagian menunjukkan persaingan yang begitu ketat dengan calon lain dari kubu partai yang sama yaitu Hillary Clinton sudah mendekati babak akhir.


Uraian sekilas tentang Barack Obama kali ini (1) lebih difokuskan pada hubungan psikologis antara sang kandidat Barack Obama dengan Indonesia, sebagai tempat, negara ataupun rakyat yang pernah ia tinggali, kenali dan "bergaul" di masa kanak-kanak.Barack Obama lahir di Honolulu pada tanggal 4 Agustus 1961 dari pernikahan Barack Hussein Obama seorang muslim kulit hitam asal Kenya, dengan ibunya, Aan Dunham seorang kulit putih di East West Center Hawai University Honolulu. Setelah iunya bercerai dengan Obama senior, Aan Dunhan menikah dengan pria Indonesia yang bernama Lolo Soetoro dan tinggal di kawasan Tebet Jakarta Selatan selama 3,5 tahun.Rumah tinggalnya di Tebet yang sangat sederhana, hanya berkloset jongkok serta tidak ber AC. Di belakang rumahnya banyak ayam kampung peliharaan, sedangkan dekat jendela rumahnya bergelantungan jemuran pakaian. Pendidikan dasarnya dialami Barack Obama dengan bersekolah di SD Fransiscus Asisi serta SDN 01 Jalan.Besuki Menteng Jakarta Pusat. Beliau mengungkapkan pengalaman pendidikan dasarnya di Jakarta dengan menyebut "Kami tak punya cukup uang untuk dapat bersekolah yang berstandar internasional, sehingga masuk ke sekolah biasa, dan berteman dengan masyarakat Indonesia dari kalangan anak pembantu, penjahit maupun anak pegawai rendahan lainnya". Sewaktu ayah tirinya (Lolo Soetoro) keluar dari TNI dan masuk sebagai karyawan perusahaann minyak asing, secara berangsur-angsur kehidupan ekonominya mulai membaik.Masa remaja dan SLTA nya dilalui dengan tinggal di Honolulu, yang kemudian menapaki pendidikan tinggi dengan kuliah di Columbia University, New York (1985) dan pendidikan paska sarjananya di selesaikan pada tahun 1991 di Harvard Law School Boston.Karir politiknya dimulai dengan terpilihnya beliau pada tahun 1995 sebagai senatordi Negara bagian Illinois dan berkantor di Chicago. Pada tahun 2005 beliau terpilih sebagai senator di tingkat federal mewakili Negara bagian Illinois yang berkedudukan di Capitol Hill Washington DC. Saat dilantik sebagai senator pada tahun 2005, banyak masyarakat AS yang mulai memberikan perhatian serta pujian terhadap konsistensi sikap politiknya yang berpihak pada orang miskin di dunia (secara internasional). Banyak pihak menganggap kemuncullan Barack Obama, ibarat munculnya kembali John F Kennedy di masa hidupnya , bahkan kepopulerannya dinilai melebihi kepopuleran Bill Clinton dimasa berkuasa.Saat Flu Burung melanda negara kita, Barack Obama mempelopori dukungan bantuan kesehatan dari pemerintah AS, melalui lobby diplomatik yang benar. Bahkan sempat mengusulkan agar pemerintah Indonesia, memperoleh bantuan untuk penanggulangan bencana yang banyak menimbulkan kematian.


Sungguh, kehadiran Barack Obama disambut dengan antusisme yang tinggi oleh rakyat Indonesia, yang mendambakan kebebasan, penyetaraan dan keadilan, apalagi beliau pernah tinggal di Indonesia, bergaul dengan anak rakyat jelata sambil mengejar ayam, mainan lumpur, berenang di sungai,Bukanlah kelainan psikologis manakala, tidak menghapus ikatan emosional yang sulit untuk dilupakan oleh semua orang, termasuk beliau.Seandainya Barack Obama kelak menjadi presiden, maka hal itu adalah kehendak serta atas ijin Tuhan, dan hanya Tuhan yang tahu "apakah hal itu merupakan yang terbaik bagi bangsa AS, bangsa Indonesia maupun umat manusia di seluruh dunia".Saya dan anda mungkin termasuk yang berharap dan berdoa hal itu memang terjadi, karena hubungan silaturochim antar "hati nurani" memang tidak bisa dibohongi.

source ; Barack Obama, Menerjang Harapan dari Jakarta menuju Gedung Putih, UfukPress, 2007.

POST BY ; Darsana Setiawan ("Darsono- tasiun") Awal tahun 2008.

TEMPOnya TEMPE


Seminggu terakhir ini headline di berbagai media tidak hanya memunculkan berita tentang perkembangan kesehatan Pak Harto, akan tetapi makanan kesukaan saya sejak kecil yang bernama "tempe" nimbrung popularitas dengan cara menghilang dari peredaran kesehariannya di pasar rakyat atau pasar tradisional.Para wartawan yang tidak memperoleh tugas untuk meliput situasi di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), di Cendana, di Giribangun, di nDalem Kalitan langsung tancap gas mencari "tahu" perihal tempe. (kata "tahu" dalam suasana kisruhnya tempe dapat bermakna ganda, karena temannya tempe yang ikut hilang bersamanya juga bernama "tahu", ada tahu tempe, ada tahu Sumedang, ada tahu petis, and last but not least, sebagai orang yang lahir di Kediri saya pasti mengenal tahu takwa).


Perlu disimak, bahwa hilangnya si tempe dan tahu bukanlah masalah sepele, jangan-jangan memang ada yang membolak balik gorengan tahu, walaupun kita semua bakal tahu kalau tahu yang digoreng itu kalau dibalik (agar tidak gosong), jadinya ya tetap tahu. Beda dengan (maaf) pantat, kalau dibalik apa jadinya?.Walhasil berita TV, tiga hari terakhir ini membeberkan hasil kerja teman-teman wartawan yang sukses mencari tahu penyebab hilangnya tempe dari singgasana lapak penjajaannya di pasar-pasar, karena melonjaknya harga bahan baku tempe yaitu kedelai yang tidak lagi mengenal peri kelezatan manusia, yaitu di atas 100%.Bulan lalu harga kedelai berkisar 3.500 rupiah per kilo, dan saat ini sudah berada di atas level harga 7.000 rupiah per kilo. Walaupun para pengusaha kecil tahu dan tempe sudah mensiasati agar produksinya jalan terus dengan cara mereduksi besarnya potongan-potongan tahu dan tempe sehingga menjadi lebih kecil dan harganya dinaikkan sedikit ke atas, namun tetap tekor alias rugi juga. Saking geramnya, sekelompok pengusaha kecil tahu dan tempe di kota Banyuwangi beramai-ramai melakukan "swiping" kepada semua kendaraan yang mencoba mengangkut dan membawa masuk produksi tahu dan tempe dari luar kota, karena dianggap tidak solider dengan harga di bawah biaya produksi nyata. "Weleh-weleh, wong tempe saja kok diobrak abrik melalui harga kedelai, gimana ini juntrungannya?", gerutu saya. Kalau ada pertanyaan kepada para importir kedelai (karena memang selama ini kita selalu mengimpor kedelai dari luar negeri), pasti jawaban klisenya muncul "karena harga kedelai di pasar internasional, terutama di Amerika Serikat memang sudah tinggi (naik)". Sama halnya dengan jawaban yang diterima para peternak gurem ayam ras, yang kelimpungan menghadapi kenaikan harga pakan, sementara harga ayam potongnya ikut turun gara-gara berita "flu burung yang tak kunjung mereda". Alasan produsen pakan ayam juga sama klasiknya yaitu "harga pakan ayam naik karena harga jagung (sebagai bahan baku utama pakan) di luar negeri terutama di Amerika Serikat, juga naik, sehingga kami juga ikut menaikkan harga pakan ayam untuk para peternak ayam kelas gurem".Masalah tempe bukan lagi sesederhana seperti di masa lalu, karena sudah menyangkut masalah harga di pasar internasional sehingga sudah menjadi komoditas global.Saya jadi ingat soal hak patent tempe itu sendiri yang memang sudah didaftarkan oleh Jepang di Kantor Patent New York AS. Saatnya tiba kelak (mungkin sesuai kesepakatan di dalam WTO yang sudah kita ratifikasi), walaupun soal bahan baku kedelai suatu saat tersedia dengan melimpah, (jangan-jangan) saya juga tidak semudah dulu lagi makan tempe, karena harus membayar "fee" terlebih dahulu kepada pemegang patent tempe.Sekarang, memang TEMPO-nya TEMPE untuk ikut berlaga mencari perhatian publik, atau memang sang tempe kembali dijadikan komoditas politik oleh sekelompok orang tertentu agar kiblat media tidak fokus disatu arah yaitu RSPP. He..he..saya tidak bermaksud mengingat-ingat ada tidaknya hubungan TEMPO dan TEMPE, karena enaknya tempe walaupun tanpa promosi wisata kuliner, TEMPO KAPAN SAJA TEMPE TETAP ENAK DIMAKAN DAN PERLU, jadi tempe tetaplah "uueenaaak tenaaan…dan ..mak nyuuus’ walaupun TEMPO-TEMPO harganya mahal seperti saat sekarang.Lho kenapa tempe dan tahu yang jadi sasaran?, Apakah tidak dipikir panjang bahwa kelangkaan kedelai akan menyebabkan sekian banyak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi para kuli dan pekerja kelas bawah di pabrik/ home industri tempe dan tahu itu sendiri?. Tidak saja Bung Karno yang marah dengan semangat patriotisme bangsanya, sehingga berpesan "jangan jadi bangsa tempe", akan tetapi kita dulu juga marah, diledek sporter kesebelasan Singapor dengan kalimat "gara-gara terlalu banyak makan tempe sehingga kesebelasan PSSI "Garuda" yang dimotori Iswadi Idris dan kawan-kawan pulang ke tanah air, tidak membawa piala kejuaraan.Inilah nasibnya tempe, sebagai makanan (yang dianggap) kecil dan sepele karena dikonsumsi oleh masyarakat bawah dan berimplikasi hanya pada rakyat miskin. Akan tetapi hendaklah selalu diingat bahwa masalah-masalah besar yang menimpa semua bangsa di dunia, berasal dari akumulasi masalah masalah (yang dianggap) sepele sebelumnya.Buktinya para pekerja yang terkena dan terancam PHK serta para pengusaha gurem dari industri tempe sudah hilang kesabarannya dan berdemo di depan Istana Negara. Mereka yang berdemo adalah pemakan tempe, dan pasti rakyat kecil yang tidak atau belum mampu membeli lauk selain tempe (karena memang dulu harganya murah).


Mari kita bersama-sama waspada,…….karena Maslow telah mengingatkan kita, bahwa urusan perut bagi si miskin, memang nomor satu!.Mudah-mudahan penerima amanah untuk urusan perdagangan tempe di negeri ini segera dapat mengakhiri krisis kedelai di tanah air, dan "statemen press" presiden yang mengatakan pemberlakuan Bebas Bea Masuk Impor kedelai dari luar negeri BENAR-BENAR DAPAT DILAKSANAKAN DI LAPANGAN, (nggak usah ragu!!, walaupun Ibu Kepala Departemen Ekonomi Institut Pertanian Bogor dan pak Rizal Ramli yang mantan menteri ekonomi, berhitung sendiri antara kenaikan harga kedelai yang 100% lebih dan pembebasan Bea Masuk Impor hanya 10%), sehingga jangan sampai berdampak negatif pada KEBERSAMAAN yang sedang dibangun dan mulai menampakkan wujudnya.Memang, sekarang TEMPO-nya TEMPE meminta perhatian.Pesan pak YB Sumarlin* dan pak Emil Salim saat ditanya bung Rizal Malarangeng (di salah satu acara TV) tentang pesan ke depan berdasar pengalaman sukses menjadi bagian dari "TIM WIJOYONOMIC" mengatakan; " utamakan masalah mendasar menyangkut masalah pangan, dan yang penting jangan bekerja sendiri-sendiri, bekerjalah sebagai TIM YANG PADU, TERUTAMA YANG BERTANGGUNGJAWAB DI SEKTOR ITU IKUT DILIBATKAN". Komentar akhir saya "Memang benar tidak ada Superman, yang ada SUPER TEAM bahkan harus bisa ditingkatkan kinerjanya menjadi SUPER DREM TEAM!!" dan tidak sekedar bersama.Besok kita cari tahu dan tempe di tempatnya.....InsyaAllah sudah ada.


catatan:* Prof.Dr.Sumarlin yang tersebut di atas, adalah sesepuh SANYURI (Santi Paguyuban masayarakat Kediri)


Jakarta, 17 Januari 2007, Darsana Setiawan, e-mail ; darsanatasiun@gmail.com atau darssetia@yahoo.co.id Weblog : http://omson.blogspot.com/ atau http://edukasipress.wordpress.com/ bisa juga http://darsanas.multiply.com/

Senin, 18 Februari 2008

HALAMAN PREAMBULE


Blog ini menjadi bagian dari upaya interaksi antar ALUMNI SMA NEGERI 1 KEDIRI, terlebih angkatan 1969 dimanapun berada.

Semoga jalannya komunikasi tersebut dapat berlanjut menjadi proses silaturochmi yang berkesinambungan, tidak sekedar melalui arisan, namun juga bisa melalui KONTAK BATHIN ELEKTRONIK secara virtual melalui weblog seperti ini.

Suatu harapan besar kiranya teman-teman berkenan menyambut dan menyambung ikatan silaturochmi tersebut (bisa melalui email : darsanatasiun@gmail.com), sehingga menjadi suatu "REZEKI" seperti yang telah dituntunkan Yang Maha Kuasa kepada kita bersama.

Amien.